Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Aug 8, 2015

Emha ainun Najib : Isteriku Seribu

KETIKA KH. Abdullah Gymnastiar membeberkan pernikahan keduanya di media massa beberapa waktu yang lalu, wacana poligami kembali menjadi menu perbincangan hangat di negeri ini. Apa yang dilakukan Aa’ Gym seperti memantik reaksi sejumlah kalangan untuk buka suara. Bahkan, DPP Partai Bintang Reformasi yang notabene partai berasaskan islam memutuskan mencopot kadernya dari kursi wakil ketua DPR, gara-gara yang bersangkutan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Aa’ Gym. Ada apa sebenarnya dengan poligami. Sebegitu menakutkankah ia, sehingga para pelakunya – meminjam bahasanya Zaenal Ma’arif ( Jawa Pos, 31/12/2006 ) – dikejar-kejar layaknya seorang teroris.
Poligami memang tak henti menyulutkan kontroverasi. Ditengah maraknya isu yang berkembang di negeri yang sedang panen bencana ini, ia tampil didepan public melengkapi seabrek permasalahan yang sedang terjadi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah tak mau kalah dalam pertarungan wacana itu dengan berencana merevisi undang-undang perkawinan No.1/1974 dan PP. No. 10 Tahun 1983. Pertanyaannya, betulkah poligami adalah sesuatu yang penting, sehingga kehadirannya mampu menyedot sebagian dari opini publik? Apakah perbincangan mengenai poligami betul-betul telah menyentuh hal yang substansial? Hal-hal semacam itulah yang tampaknya mengilhami Cak Nun – panggilan akrab Emha Ainun Nadjib – untuk menulis buku ini. Menurutnya, perdebatan mengenai poligami yang selama ini terjadi hanya berputar-putar pada wilayah kulit. Tak ada keseriusan dari berbagai pihak dengan berusaha mencari landasan hukumnya pada khasanan agama, ideologi atau filsafat (hal.11).
 Dengan memakai pendekatan sastra, Cak Nun menciptakan situasi dimana ia sedang terlibat pembicaraan dengan Yai Sudrun. Dengan sangat piawai, ia menyusun serangkaian dialog mengenai soal-soal kehidupan yang sarat dengan muatan makna. Menariknya, kesengajaan Cak Nun mengemukakan sejumlah pengalamannya dalam hal keberagamaan, baik ia sebagai pribadi atau tatkala berkelana ke seluruh belahan dunia bersama komunitasnya Kiai Kanjeng, adalah upayanya mengemukakan sikap hidup sebagai seorang Emha yang sunyi, yang pemikirannya cenderung melawan mainstream. Cak Nun memang unik, meski gagasan awal buku ini adalah mengusung tema poligami, sebagaimana tersurat dalam judulnya, namun kenyataannya ia mampu menyeret pembaca untuk menjelajah setiap kemungkinan dalam ruang kehidupan.
Mungkin kita bertanya, siapa sebenarnya Yai Sudrun? Kenapa dalam banyak karyanya Cak Nun seringkali menghadirkan sosok itu? Apakah ia hanya tokoh fiktif yang semata-mata hasil imajinasi seorang Emha? Ataukah benar-benar ada dalam alam kasunyatan. Hanya Cak Nun yang tahu. Yang jelas, Yai Sudrun bagi Cak Nun adalah sosok nyentrik yang memiliki sangat banyak keajaiban (hlm. 18 – 20). Mungkin Yai Sudrun adalah Gus Ud, Kiai khariqul adat dari Sidoarjo yang sering diceritakan Cak Nun dalam pengajian-pengajiannya. Atau mungkin Gus Dur, yang kata Cak Nun adalah makhluk penidur yang memiliki dimensi berbeda dengan kebanyakan makhluk. Namun sekali lagi, ini hanya kemungkinan. Kepastiannya hanya cak nun wallahu ya’lam.
Tentang poligami, Cak Nun mengawalinya dengan memandang hubungan suami istri tidak terbatas antara laki-laki perempuan dalam ikatan perkawinan. Hubungan persuami-istrian bisa berlaku juga antara Tuhan dan manusia, manusia dan alam semesta, pemerintah dan rakyat jelata, dll. Ia lantas membedakan cinta berdasarkan konteks sifat Allah, ialah ar-Rahim ( cinta ke-dalam, cinta vertical, cinta personal ) dan ar-Rahman ( cinta meluas, horizontal, keluar ) yang saling berdialektika antara satu dengan yang lain (hlm. 37). Mengenai cinta ar-Rahim, Cak Nun memberikan contoh dengan memaparkan sejarah hidupnya sendiri. Ia mengatakan bahwa istri ar-Rahimnya hanyalah satu, yakni Novia Kolopaking. Sementara ke-ajeg-anya menghadiri forum rutin bulanan diberbagai kota untuk melakukan pemberdayaan public, gerakan kebudayaan, penyebaran cinta kemanusiaan, manivestasi sholawat dalam lingkaran cinta segitiga, serta tema-tema krusial lainnya, semuanya itu ia persembahkan kepada istrinya yang lain dalam konteks ar-Rahman. Pada keadaan itu, Cak Nun lantas bertanya, apakah masih ada tempat yang luang dalam hidupnya yang bisa dipergunakan untuk berfikir mencari istri ar-Rahim selain Novia?
Emha memang Emha, namun dalam setiap pengajiannya baik di Kenduri Cinta (Jakarta), Padhang Mbulan (Jombang), Gambang Syafaat (Semarang), Mocopat Syafaat (Yogja), Bangbang Wetan (Surabaya), atau di tempat-tempat lain yang sifatnya tentatif, ia selalu menekankan kepada jamaah agar meletakkan Allah dan Muhammad sebagai satu-satunya yang utama. Mengenai Muhammad yang sering disalahpahami lantaran beristri lebih dari satu, Cak Nun menuturkan bahwa dalam konteks ar-Rahim, istri Nabi hanyalah Khadijah. Setelah Khadijah wafat, posisinya beralih pada Aisyah. Sementara istrinya yang lain setelah itu lebih disebabkan pertimbangan social dalam konteks ar Rahman? Yang menarik untuk direnungkan adalah, bagaimana cinta ar-Rahimnya Kanjeng Nabi justru memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap cintanya dalam konteks ar-Rahman. Bukankah sebelum wafat, kalimat yang terucap dari bibirnya adalahummati, ummati, dan bukannya Khadijah atau Aisyah. Ini menunjukkan betapa nabi kinasih itu meletakkan umatnya sebagai istrinya yang utama. Sementara tidak demikian dengan kita. Kita cenderung senang berpoligami dengan mempermaisurikan dunia, karier pribadi, pangkat, kekuasaan, dan hal remeh-temeh lainnya yang sejatinya tak pernah mencintai kita. 
Poligami memang tidak dilarang dalam islam. Namun bagi Cak Nun, firman Tuhan yang dijadikan acuan untuk menikah lebih dari satu itu harus dipahami sebagai upaya Tuhan untuk mengajak manusia berdiskusi (hlm. 60). Menurutnya, ayat yang membolehkan poligami itu adalah sebuah tahap. Dan karenanya, seseorang harus melewati tahap berikutnya dengan menggunakan akal agar ia tidak mengalami stagnasi dalam memahami syariat islam. Namun kenyataanya, pemahaman tentang ayat itu di-stop dan seolah-olah ayat itulah yang melegitimasi bahwa syareat islam memperkenankan poligami. Padahal masih ada dimensi lain yang bagi Cak Nun sangat perlu untuk dipertimbangkan.
Walhasil, dengan membaca buku seri ilmu hidup ini, wawasan kita tentang poligami mungkin akan bertambah. Maka, apa salahnya jika kita taburi pikiran kita dengan pernik-pernik pemikiran Cak Nun, agar kita tidak termasuk seperti yang disampaikannya, bahwa poligami terjadi hanya di dunia katak. Selamat Membaca. ***

Judul Buku : Istriku Seribu
Peresensi : Em. Syuhada'
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress, Yogjakarta
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : iv + 64 halaman


Download versi pdf: Isteriku Seribu
Selengkapnya...

Apr 1, 2015

Hanya Sebuah Protes Tentang Segala Kebijakan

Perbedaan penjajahan zaman dahulu dan sekarang

1. Penjajahan modern tidak memakai serangan militer, perang, pengerahan senjata, dll. tetapi lebih banyak memakai sarana: pemberian hutang luar negeri, investasi, pembelian asset nasional dengan harga murah, memaksakan mata uang dollar sebagai standar ekonomi, kontrak karya pertambangan yang monopolis dan licik, menanam agen-agen di berbagai sektor kehidupan, mengelola data sebagai aset negara sebagai dengan iming-iming memberikan bantuan di berbagai bidang, dll.
Penjajahan modern tidak tampak seperti penjajahan, tetapi dampaknya sangat terasa. Persis seperti logika “bau kentut”; bentuknya tidak kelihatan, tetapi busuknya membuat orang menutup hidung.
2. Penjajahan klasik sangat jelas siapa lawan yang dihadapi, sebab pasukan musuh melakukan invasi ke sebuah negara. Sedangkan penjajahan modern, tidak perlu pengerahan pasukan. Penjajahan dioperasikan dari jauh melalui sambungan telepon, fax, email, telekonferensi, surat-menyurat, kurir, dll. Para penjajah modern tidak perlu susah-payah berperang, sehingga tangan berdebu dan jatuh korban. Mereka cukup menjajah sebuah negara, misalnya Indonesia, dari kejauhan.
3. Penjajahan klasik sangat disadari oleh masyarakat yang dijajah. Mereka amat sangat tahu kalau dirinya sedang dijajah, sebab pasukan musuh mondar-mandir di depan hidung mereka. Tetapi penjajahan modern amat sangat sulit dipahami oleh rakyat. Mereka merasa hidup baik-baik saja, padahal sejatinya sedang dijajah. Ditambah lagi, Pemerintah suatu negara selalu mengklaim sedang melakukan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan; padahal sejatinya, kekayaan negeri mereka terus dijarah oleh para kolonialis.
Seperti di Indonesia ini. Setiap hari rakyat disuguhi tontonan hiburan oleh RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, ANTV, GlobalTV, MNC TV (dulu TPI), dll. Tontonan bisa berupa musik, film, kartun, sinetron, lawak, kuiz, reality show, hiburan pengajian, sepakbola, hobi, kuliner, dll. Itu masih ditunjang oleh hiburan lain seperti video, internet, bioskop, kaset, CD/DVD, dll. Masyarakat merasa hidupnya baik-baik saja, tenang-tenang saja, banyak hiburan. Padahal semua hiburan itu hanyalah menipu akal mereka. Agar mereka tidak sadar kalau negaranya sedang dijajah oleh orang-orang asing; agar mereka tidak sadar kalau harta kekayaan negaranya terus dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing.
Anak-anak muda yang sangat potensial disibukkan oleh tontonan bola, rokok, narkoba, pornografi, dan seks bebas. Akal mereka tidak bisa berjalan normal karena sudah dihabisi oleh bola, rokok, shabu-shabu, video mesum, dan perzinahan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Misalnya, di Bandung ada ratusan ribu penggemar Persib yang sangat fanatik kepada klub asli Bandung itu. Tetapi dari ratusan ribu Bobotoh Persib itu, berapa orang yang berani menentang penindasan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan asing? Paling hanya 6 atau 7 orang saja. Urusan bola, disembah-sembah seperti berhala;  tetapi urusan ekonomi rakyat, diabaikan begitu saja. (Miris kalau memikirkan anak-anak muda ini. Akalnya seperti tidak berfungsi, padahal sehari-hari mereka juga hidup susah).
4. Penjajahan klasik biasanya dilakukan oleh suatu negara tertentu. Misalnya negara Nashrani seperti Inggris, Perancis, Portugis, atau Spanyol. Satu wilayah dikuasai oleh satu negara saja. Tetapi di jaman modern ini, penjajahan berlangsung sangat dahsyat. Seperti terjadi di Indonesia, negara penjajah berasal dari banyak negara, seperti: Amerika, Inggris, Jepang, China, Korea, Australia, Belanda, Singapura, Taiwan, Jerman, Belgia, Finlandia, Denmark, dll. Mereka berasal dari aneka bangsa, tetapi tujuannya satu, yaitu: mengeruk kekayaan kita untuk diangkut ke negeri masing-masing. Caranya bisa berkedok kerjasama bisnis, investasi, perdagangan, penjualan teknologi, konsultasi teknik, dll.
5. Penjajahan klasik diakui secara kesatria oleh pelakunya sebagai penjajahan. Tetapi penjajahan modern tidak demikian. Mereka tidak pernah mengaku sebagai penjajah, tetapi selalu berkedok investasi, kerjasama perdagangan, memberi pinjaman hutang, membeli asset-asset, membeli SUN, dll. Intinya, menyedot kekayaan kita, tetapi caranya tampak sopan, halus, dan modern. Tetapi hakikatnya ya mengeruk kekayaan itu. Karena inti penjajahan memang: mengeruk harta benda negara lain secara licik! Covernya bisa macam-macam, tetapi intinya seperti semboyan penjajahan klasik dulu, “Gold, Gospel, Glory.”
6. Dalam penjajahan lama, semua kalangan nasional berusaha melakukan perlawanan kepada penjajah. Kecuali kaum pengkhianat yang menjadi jongos para penjajah. Dalam penjajahan modern, praktik penjajahan itu justru difasilitasi oleh negara, difasilitasi oleh birokrasi, difasilitasi oleh para pejabat, bahkan didukung oleh anggaran APBN/APBD. Ini luar biasa. Pemerintahan suatu negara justru berjuang dengan mengerahkan APBN/APBD untuk memuluskan agenda-agenda penjajahan asing. Masya Allah, betapa terkutuknya perilaku para pejabat negara itu.
Contoh, mereka mengundang komisi dari IMF, atau Bank Dunia, atau CGI, atau WTO, atau CAFTA, dll. Komisi-komisi itu datang dengan membawa proposal kerjasama yang menguntungkan diri mereka sendiri. Pejabat-pejabat kita hanya bisa manggut-manggut, menyetujui, memberi tanda tangan, dll. Tidak ada perlawanan, penolakan, atau ketegasan sama sekali. Para anggota komisi itu sudah tahu kuncinya, “Kasih saja pejabat Indonesia dengan cewek cantik dan uang satu miliar. Dijamin mereka akan diam seribu bahasa.” Anggota komisi itu rapat di gedung negara, memakai fasilitas negara, diberi pelayanan dengan anggaran negara, diberi cindera mata dari anggaran negara, dll. Intinya, negara memfasilitasi para penjajah untuk menindas rakyat negeri itu sendiri.
Sementara rakyat negeri itu sendiri terus asyik nonton sinetron Cinta Fitri, nonton Opera Van Java, terus asyik joget dangdut, terus asyik tawuran setelah nonton bola, terus asyik main FB, terus asyik nonvon video Ariel Superporn,… Seakan otak mereka tidak berisi apa-apa, selain lumpur.
7. Dalam penjajahan lama, setiap upaya perlawanan menentang penjajah akan dibela mati-amtian oleh rakyatnya. Kalau perlu dibela dengan diberi makan nasi bungkus, singkong rebus, ikan asin, atau lauk terasi. Tetapi penjajahan modern sama sekali berbeda. Negara justru mengerahkan APBN untuk memerangi benih-benih perlawanan itu. Caranya, dengan mengembuskan fitnah terorisme. Masyarakat ditakut-takuti dengan kampanye seperti, “Awas teroris! Waspada terorisme! Teroris musuh bersama!” Foto teroris dipampang dimana-mana, penangkapan teroris selalu mendapat liputan khusus dari TVOne, anggota Densus88 bergerak melakukan penangkapan, penembakan, penggerebekan, dll. Semua itu dalam rangka menciptakan suasana takut di hati masyarakat dan penyesatan opini.
Sementara aparat keamanan itu tidak pernah peduli dengan kenyataan lain, berupa pengerukan kekayaan nasional oleh negara-negara asing, penindasan bisnis rakyat oleh perusahaan-perusahaan asing, penghancuran lingkungan, penghancuran budaya, penghancuran sosial, yang dilakukan bangsa-bangsa asing. Seharusnya, mereka menyergap para penjajah itu dengan kehebatan aksi-aksi Densus88, bukan menciptakan ketakutan nasional melalui isu terorisme.
8. Indonesia pernah dijajah Belanda (dan VOC) selama sekitar 350 tahun. Selama itu, kita umumnya hanya kehilangan rempah-rempah, sedikit batu bara, sedikit minyak bumi. Dari sisi kekayaan tidak terlalu besar, apalagi rempah-rempah itu sifatnya bisa ditanam kembali. Tetapi setelah Indonesia merdeka tahun 1945 lalu, setelah kini berjalan 65 tahun, nyaris kita telah kehilangan segala-galanya. Hutan dibabat, aneka barang tambang dikeruk, hasil tanaman diambil, ikan dicuri, lingkungan dirusak, perusahaan dibeli, surat berharga negara diborong, catatan hutang makin menumpuk, sungai dikuasai, sumber-sumber energi dikuasai, bahkan pasar kebutuhan umum juga dikuasai barang-barang asing. Sejak urusan mesin, mobil, computer, listrik, piranti pendidikan, percetakan, tekstil, garmen, makanan, makanan bayi, susu, obat-obatan, sarana hiburan, sampai urusan kecil seperti kecap, saus, sambel, terasi, sabun, sampo, dll. semuanya sudah dikuasai asing. Kita hanya kebagian ampas dan menjadi jongos asing saja.
 
Maafkan para penerusmu ini para pejuangku yang menyianyiakan perjuanganmu
Hanya bisa #mikir dan #prihatin.
Sumber: dari berbagai sumber

Selengkapnya...

Mar 21, 2015

Fenomena Pendidikan di Indonesia

fenomena pendidikan di indonesia
Pendidikan merupakan proses tanpa akhir yang diupayakan oleh siapapun, terutama (sebagai tanggung jawab) negara. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya peradaban manusia itu sendiri.

      A.   Di masa Klasik
Di masa klasik khususnya pada masa penjajahan koloneal, partisipasi masyarakat tehadap pendidikan dibuktikan dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat baik secara mandiri maupun sharing dengan improvisasi pemerintah koloneal.

Keterlibatan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam melakukan kepedulian pada pendidikan dapat dijumpai pada masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim karena memang masyarakat Indonesia terbanyak adalah komunitas Islam. Jauh sebelum lembaga pendidikan sekolah atau madrasah formal sebagaimana yang dijumpai sekarang, pada waktu itu masyarakat sudah memiliki lembaga pendidikan seperti Surau, Meunasah, Rangkang, Langgar, Mushalla, Masjid, Majlis Ta’lim, dan Pesantren. Lembaga-lembaga tersebut secara keseluruhan dibangun atas dasar kemauan dan kesadaran masyarakat sendiri, dan digunakan untuk kegiatan ibadah dan kegaiatan sosial keagamaan juga untuk kegiatan pendidikan. Para tokoh pendidikan yang telah berhasil mendirikan lembaga pendidikan dipelopori oleh ulama-ulama besar seperti; Prof. Hamka, KH. Abdullah Ahmad, Sa’aduddin Jambek, Mahmud Yunus, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Imam Zarkasi, dan masih banyak lagi.   (Abuddin Nata(ed.) 2001 : 6-100).Ini membuktikan bahwa peran dan partisipasi masyarakat pada masa klasik telah mampu mendirikan lembaga pendidikan atas dasar inisiatif dan kesadaran masyarakat sendiri yang teropsesi semata-mata oleh panggilan agama dan perjuangan bangsa, dan digunakan untuk kegiatan ibadah dan kegaiatan sosial keagamaan yang endingnya bermuara pada kegiatan pendidikan.

      B.   Di masa Modern
Masa klasik diakhiri dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, sejak dibukanya kran kemerdekaan kebebasan mayarakat terbuka lebar dalam menyongsong, manata dan merekonstruksi nasib rakyat dan semua sisi kehidupan bangsa terutama dibidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Di era awal masuknya masa modern tidak semudah membalik telapak tangan, dengan bermudal kesadaran masyarakat dalam memperjuangkan kecerdasan bangsa semakin gencar, lembaga-lembaga pendidikan mandiri semakin bermunculan yang didirikan oleh masyarakat seperti TPA, Majlis Ta’lim, Pondok Pesantren, dan kelompok diskusi lainnya. Bukan hanya pendidikan non formal, akan tetapi juga pendidikan formal mulai tingkat dasar, sekolah tingkat menengah/SLTP, sekolah tingkat atas/SLTA, bahkan perguruan tinggi baik swasta lebih-lebih upaya pemerintah sendiri, ini secara bertahap telah berdiri dan menyebar ke penjuru nusantara, dikuatkan dengan dua organisasi Islam besar yang mempelopori masa kebangkitan bumi pertiwi ini, yaitu Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, ini menandakan bahwa kepedulian dan partisipasi masyarakat sangatlah bertambah besar.
Pendidikan adalah ajang pertarungan ideologis. Bangaimana bukan pertarungan jika pada kenyataannya apa yang menjadi tujuan pendidikan berbenturan dengan kepentingan lain. Lembaga pendidikan adalah wilayah diamana kesadaran diperebutkan oleh berbagai kepentinagan untuk membebaskan manusia (peserta didik) dengan kesadaran dan dorongan untuk terlibat aktif dalam aktivitas yang mengarah pada kemanusiaan, dengan kepentingan utnuk menjadikan peserta didik hanya tunduk pada “kesadaran” yang dapat melanggengkan sistem penindasan dan menjadikan peserta didik hanya sebagai obyek dalam membangun budaya yang menguntungkan kekuasaan yang menindas kemanusiaan (Nurani Soyomukti(ed.) 2010 : 59).
Manusia di negeri ini selalu dijauhkan dari pendidikan dan di dekatkan pada metos, takhayul, dan sentimen-sentimen kelompok sempit. Mekanisme penindasan yang dirempuh dengan jalan menjauhkan masyarakat dari lembaga pendidikan, terbukti hanya anak-anak para pembesar dan para konglomrat saja yang berhak memperoleh pendidikan tinggi, karena merekalah yang menjalankan misi membodohi rakyat. Inilah fenomena yang telah terjadi dimasa cikal-bakal era modern yang bertepatan dengan masa orde lama dan orde baru, atas dampak benturan berbagai kepentingan politik nasib pendidikan mengalami sandungan yang menjadikan tujuan cita-cita luhur mencerdaskan naka bangsa selalu gagal.   

      C.   Di masa Reformasi
Seiring dengan perubahan zaman, perubahan politik, dan teknologi, nilai-nilai tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan bergeser semakin berkurang, bahkan semakin mulai punah. Mereka telah enggan memikirkan tentang pendidikan, tentang keberadaan, proses belajar, dan tidak mau duduk beersama turut berembuk dan bermusyawarah bagaimana mencari solulsi tentang peningkatan dan perkembangan pendidikan secara utuh. Masyarakat tidak mau lagi mendonorkan dananya lagi untuk kepentingan pendidikan baik secara langsung ataupun tidak lansung, semua urusan pendidikan telah dipasrahkan penuh pada instansi pemerintah.
Betapa mengenaskan ! Dalam kaitan ini mutu pendidikan juga berkaitan dengan pemerataan akses serta lemahnya alokasi anggaran. Kedua hal itulah yang membuat pendidikan menjadi mahal, hingga otak harus pindah ke dengkul, bukan di kepala. Pendidikan selalu dipercaya untuk membentuk masyarakat agar dapat menjadi yang pribadi yang berpartisipasi dalam pembangunan. Tapi, idealitas ini tanpaknya akan sangat jauh bila kita melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Cita-cita untuk menciptakan manusia yang lebih baik seakan hanyalah ilusi. Bahkan, kita gagap menghadapi perubahan yang cepat. Dan pendidikan tidak dapat menjawab sama sekali kecendrungan itu. Kebijakan pendidikan pemerintah justru membatasi akses rakyat untuk mendapatkannya (Nurani Soyomukti (ed.) 2010 : 35)
Kebijakan pemerintah telah mempersempit ruang gerak wewenang pengelola pendidikan, terkait dengan kehawatiran terhadap penyalah gunaan wewenang pada hal-hal tertentu di lembaga pendidikan, semisal dalam hal penggelapan dana bantuan, penganiayaan siswa/peserta didik, perilaku kontraversi dengan norma-norma dan sebagainya. Sementara di sisi lain banyak lembaga bermunculan dengan tendensi banjirnya aliran dana yang turun pada lembaga pendidikan, atas dasar ini masyarakat tidak lagi merasakan karena panggilan agama, masalah pahala telah jenuh, bahkan mereka sudah terjebak oleh nilai-nilai kapitalis yang terangsang selalu ingin memperoleh penghasilan sebanyak-banyaknya, tak terkecuali harus mengeruk keuntungan dari pendidikan.
Di era reformasi menghadapi era globalisasi ini, diharapkan kesadaran dan semangat kepedulian tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan masyarakat terhadap pendidikan tetap kuat bergulir dan berperan mewarnai. Menghadapi era global dimasa yang akan datang, diharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat tetap mengalir, karena sampai kapanpun pendidikan sebagai suatu upaya menghadapkan manusia pada realitas yang terus saja berubah, saat ini sangat diharapkan perannya untuk mampu mengikuti arus zaman, bukan berarti untuk mengikis kemanusiaan melainkan justru untuk menemukan kondisi air kehidupan yang memungkinkan jiwa-raga bangsa berenang dengan indah.
Realitas global yang berkembang sekarang ini adalah pendidikan itu sendiri dikatakan pendidikan, karena globalisasi telah membawa doktrin yang membentuk masyarakat, peserta didik dan juga pengajar tidak luput dari doktrin global. Singkatnya, sistem dan budaya pendidikan yang berkembang juga telah terhegemoni oleh perkembangan globalisasi (Nurani Soyomukti (ed.) 2010 : 43).
Meskipun istilah Globalisasi telah begitu terkenal, dalam banyak hal awalnya hampir tidak diperdebatkan ilmiah dan kritis terhadapnya, kecuali doktrin. Kalimat yang paling akrab di telinga kita sebagai sering dipidatokan Soeharto dulu, dan juga para politisi “Pro Globalisasi” mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa menghindar dari arus besar globalisai.... Masalahnya, bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya, agar bisa memetik manfaat dari arus besar itu. Camkan..... 

 Ditulis : Drs. Moh. Sunarji (2012)  - Download Versi PDF


Selengkapnya...

Teknologi Informasi dalam Pendidikan

teknologi informasi dalam pendidikanGlobalisasi dalam segala bidang sudah menjadi tuntutan pada era milenium di dekade ke-2 saat ini, tidak terkecuali pada bidang pendidikan. Bicara tentang globalisasi tidak lepas bicara tentang teknologi informasi. Teknologi informasi adalah salah satu bidang ilmu yang digembar gemborkan para pemikir bahwa teknologi informasi akan dapat memudahkan segala pekerjaan manusia.

Teknologi informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang lebih berkualitas, akurat dan tepat waktu. (muslim, http://tutomu.files.wordpress.com : 2012). Secara umum teknologi informasi dapat dilakukan menggunakan hardware yang sudah terintegrasi dengan software pendukung didalamnya seperti Komputer (PC,notebook,netbook), Mobile gadget (tablet PC, smartphone, PDA, Mobile Phone/Handphone), GPS (global positioning system). Teknologi informasi akan menjadi sempurna keberadaannya apabila terhubung ke sebuah jaringan yang dapat saling berhubungan antar perangkat dengan akses data yang dapat di diunggah ataupun diunduh melalui layanan Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), dan interconnection networking (internet). Dengan adanya layanan internet yang terus berkembang dengan laju perkembangan yang sangat pesat, teknologi informasi dapat menjadi jembatan yang dapat merubah paket-paket data dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya dan semua itu dapat diakses dengan mudah oleh siapapun. Saat ini internet sudah dapat di akses dimana saja dan kapan saja melalui internet service provider(ISP) atau penyedia jasa internet ataupun dalam lingkup area wi-fi (wireless fidelity) ataupun juga melalui WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang disediakan secara berbayar ataupun free access alis GRATISSS.

Teknologi informasi berkembang menjadi sebuah sistem yang saling terintegrasi dengan tujuan semua dapat melakukan remote acces antar perangkat dengan berbagai macam sistem. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, teknologi informasi menjadi hal yang sudah lazim dan menjadi perangkat yang sangat vital keberadaannya. Perkembangan teknologi informasi menjadi tuntutan bagi semua manusia pengguna perangkat teknologi informasi dengan tingkat pengguna  occasionaly users (jarang) hingga frequently users (sering kali).

Dalam bidang pendidikan teknologi informasi sudah bukan menjadi barang asing lagi. Penggunaan teknologi informasi dalam dunia pendidikan sudah menjadi sebuah tuntutan bagi para pelaku pendidikan. Para pelaku pendidikan diharapkan akrab menggunakan teknologi informasi yang dikemas dengan berbagai bentuk aplikasi berawal dari stand alone manajemen system (SAMS). SAMS adalah aplikasi pengolah data yang digunakan secara mandiri dan tidak membutuhkan aplikasi pendukung lain pada saat dijalankan. yang dapat dikategorikan dalam SAMS microsft word, microsoft excel. Kemudian berkembang menjadi information manajemen system (IMS) atau disebut juga E-system  yang kependekan dari electronic system adalah aplikasi yang membutuhkan aplikasi pendukung lain dan terhubung dengan pusat data (database) dan dapat saling berkolaborasi dengan para penggunanya. Yang termasuk dalam kategori IMS atau E-system adalah E-School, SIMS (Sistem Informasi Sekolah), E-university, dsb. Dengan adanya teknologi informasi, para pelaku pendidikan juga diharapkan dapat memaksimalkan keberadaanya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas para pendidik dapat membuat dan kemudian menyajikannya sebagai media pembelajaran berupa  gambar, animasi, hingga film dengan menggunakan teknologi informasi. Dengan demikian para pendidik dapat menyampaikan pesan – pesan yang tidak dapat dilihat secara langsung dengan mudah oleh semua orang menjadi dapat dipelajari dan diketahui oleh para peserta didik dengan tidak terikat jarak dan waktu.

Banyak hal yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita dengan menggunakan teknologi informasi. Bahkan dengan perkembangan teknologi informasi yang didukung dengan perkembangan internet saat ini pendidikan sudah tidak mengenal jarak dan waktu. Materi pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik dapat dipelajari dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun tanpa tatap muka ataupun dengan tatap muka secara langsung maupun tidak langsung. Dengan sedikit pengetahuan tentang  tutorial, chatting, teleconference, education groupware, milis, forum – forum pendidikan, dan sebagainya.

Pada kenyataannya Teknologi Informasi dalam pendidikan di negara kita masih tidak dapat berbuat banyak meskipun banyak para pemimpin dan para pemikir di negara kita sudah mengerti dan paham akan manfaat yang akan didapat dengan menggunakan teknologi informasi dalam bidang pendidikan di negara kita. Dan pada penerapannya keberadaan teknologi informasi dalam pendidikan di negara kita masih “malu-malu tapi mau dan tanpa malu – malu kalo ada maunya hehehe”. BERKATALAH BISA DENGAN HATI NISCAYA KAU AKAN BISA...


Ditulis : Aristo Bharata, S.Pd.SD (2012) - DOWNLOAD VERSI PDF
Selengkapnya...